CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Senin, 15 November 2010

Desa Budaya Berpotensi Jadi Obyek Wisata


keterangan gambar :

Seorang turis mengabadikan daerah yang tersapu awan panas Merapi atau yang biasa disebut wedhus gembel oleh masyarakat setempat.

Desa budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berjumlah cukup banyak berpotensi menjadi obyek wisata yang layak dijual kepada wisatawan jika dikembangkan dengan baik, kata Ketua Yayasan Widya Budaya Yogyakarta Widi Utaminingsih.

"Desa budaya merupakan desa yang masyarakatnya masih memiliki dan melestarikan kehidupan budaya serta memegang kuat adat-istiadat. Desa seperti ini bisa dijadikan paket kunjungan wisatawan mancanegara ataupun Nusantara," katanya di Yogyakarta, Sabtu (13/11/2010).

Dia mengatakan, DIY menyimpan banyak desa budaya, tetapi untuk menjadi desa budaya yang layak dijual kepada wisatawan harus diseleksi dan dibenahi terlebih dahulu.

"Untuk mewujudkan desa budaya perlu dipilih satu atau dua desa budaya sebagai percontohan yang dikemas dalam paket wisata sehingga tumbuh desa budaya lain," kata Widi yang yayasannya bergerak di bidang studi pengembangan budaya dan pariwisata berbasis potensi lokal.

Menurut dia, kriteria desa budaya yang layak jual adalah kondisi masyarakatnya masih memegang budaya dan adat tradisi setempat, memiliki atraksi seni budaya, arsitektur rumah masih asli pedesaan, dan terletak di kawasan yang bernuansa alam pedesaan.

Wisatawan saat mengunjungi desa budaya diharapkan menginap di rumah penduduk selama beberapa hari agar mereka bisa menikmati kehidupan warga desa yang masih asli, mulai saat bangun pagi hingga malam hari menjelang tidur.

"Wisatawan bisa ikut petani bekerja membajak sawah atau ikut mengerjakan usaha kerajinan warga setempat. Bisa menikmati makanan seperti yang dikonsumsi warga desa itu. Sedangkan pada malam hari, wisatawan disuguhi atraksi kesenian tradisional setempat," katanya.

Ia mengatakan optimistis jika desa budaya dikemas dalam paket wisata yang baik dan menarik akan diminati wisatawan, sehingga mereka berkunjung dan menginap di desa itu.

Desa budaya di DIY dinilai lebih spesifik karena daerah lain tidak memiliki seperti yang dimiliki daerah ini. Karena itu, kegiatan festival desa budaya yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DIY merupakan langkah positif mempromosikan desa wisata sekaligus melestarikan adat istiadat dan budaya desa setempat.

"Desa budaya yang ditonjolkan adalah sisi potensi kehidupan budaya yang dimiliki warga setempat, sedangkan desa wisata yang dikedepankan adalah suasana alam pedesaan dan kehidupan warganya yang masih tradisional," katanya.

"Jika desa budaya sudah terwujud, maka para pelaku usaha wisata di daerah ini tinggal menindaklanjuti dengan mempromosikannya, baik di dalam maupun luar negeri," katanya.

sumber : kompas.com

1 comments:

genksukasuka mengatakan...

kunjungan mlm
salam gss'