CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Jumat, 29 Oktober 2010

Efek Negatif Jejaring Sosial (Ibu Bunuh Anak Bayinya)


Terjun dan berselancar di dalam dunia maya atau jejaring sosial merupakan hal yang menyenagkan. Banyka manfaat yang akan kita dapat dari jejaring sosial itu. Namun, dari sebuah kesenangan, tetap memiliki efek negatif di dalamnya. Seperti salah satu berita yang sempet kaget n: heran baca nya.. kok bisa??

REPUBLIKA.CO.ID, JACKSONVILLE, Florida--Gara-gara mengganggu sang ibu yang tengah asyik ber-Facebook ria, dengan gelap mata ia menghabisi bayinya. Padahal, yang dilakukan bayinya hanya menangis, saat ibunya fokus berselancar di situs jejaring sosial tersebut.

Sang Ibu sendiri bernama Alexandra V. Tobias. Ia terbukti bersalah atas dua tingkatan pembunuhan pada Rabu (27/10) kemarin. Dan ia pun terancam dipenjara.

The Florida Times-Union melaporkan bahwa sang ibu mengatakan kepada investigator kalau dirinya marah ketika menderang bayinya yang berkelamin laki-laki itu menangis, ketika dirinya bermain game Farm Ville. Koran tersebut juga melaporkan bahwa Alexandra mendiamkan bayinya yang tengah menangis dengan menggendongnya dan mengayunkannya dengan kencang.

Kemudian dirinya merokok guna menenangkan dirinya dan kemudian ia menenangkan bayinya lagi sama seperti perlakuan sebelumnya. Alexandra bakal menjalani persidangan dan terancam hukuman penjara yang akan dilaluinya pada Desember mendatang.

Menurut undang-undang setempat, Alexandra terancam hukuman 25 hingga 50 tahun penjara. Namun kemungkinan, masa tahanan yang akan dilalui Alexandra bakal kurang dari itu.

Vivanews

Minimalkan Konflik dengan Pasangan


Pria cenderung tidak pintar menebak keinginan wanita. Ketidaksamaan persepsi antarpasangan bisa memicu salah paham dan berpotensi menjadi sumber konflik. Ada baiknya, ketahui 'pedoman' memulai hubungan baru berikut ini demi terciptanya hubungan awet dan minim konflik, seperti dikutip dari Your Tango.

1. Menunjukkan perasaan (public display affection)

Tiap orang memiliki level kenyamanan yang berbeda ketika tampil sebagai pasangan di depan umum. Bicarakan batas dan kenyamanan ini. Ungkapkan, mana yang berlebihan dan mana yang tidak.

2. Satu minggu sekali

Tentukan satu hari dalam seminggu di mana Anda dan dia menghabiskan waktu berdua saja. Meskipun sama-sama sibuk, komitmen ini sangat penting demi hubungan sehat.

3. Tidak melarang menghabiskan waktu sendiri

Selalu bersama sebagai pasangan memang menyenangkan. Tetapi, jangan sampai Anda dan dia saling melarang untuk menghabiskan waktu sendiri. Biarkan dia sesekali menghabiskan waktu dengan teman-temannya, begitu juga Anda. Ini membuat hubungan justru jadi lebih hangat.

4. Jangan terlalu cepat bicara masa depan

Membicarakan masa depan yang terkait pernikahan dan anak di awal hubungan bisa membuat pria 'ketakutan'. Kecuali dia yang memulai. Sebaiknya jangan dulu dibicarakan. Nikmati saja dulu tahap penyesuaian di awal hubungan. Seiring mapannya hubungan, rencana masa depan akan datang dengan sendirinya.

5. Berteman dengan teman pasangan

Jangan langsung melakukan penilaian buruk pada teman-teman pasangan. Cobalah kenali dulu mereka. Sangat seru apabila Anda juga bisa akrab dengan teman-temannya.

6. Tetap tenang saat cemburu

Jangan mulai pertengkaran hanya karena ia melirik gadis lain yang berjalan sepintas. Demikian juga, ia tidak boleh marah ketika Anda melirik pria tampan yang sedang lewat. Ini hanya semacam lucu-lucuan yang justru bisa dijadikan permainan.

7. Jangan berasumsi

Jangan memaksanya untuk menebak keinginan Anda dan mengerti sendiri apa yang seharusnya dilakukan. Misalnya dengan mengatakan, "Tidak masalah jika kita tidak merayakan ulang tahunku." Akan lebih baik Anda terbuka mengungkapkan keinginan, apa yang disukai dan tidak disukai. Mintalah dia juga melakukan hal yang sama.

Trik ini bisa meminimalisasi konflik.(Vivanews)

Rabu, 27 Oktober 2010

Butuh Kepedulian Kita

Saya hanya ingin membantu menyebarluaskan informasi, yang mungkin bisa berguna buat saudara2 kita yang sedang kurang beruntung ditimpa bencana. Sejak malam dan dini hari tadi, rekan rekan dari komunitas Cahandong yang memang dekat dengan lokasi kejadian, berusaha membantu sebiasanya ke daerah pengungsian. Terima kasih, teman-teman, i wish i were there :’)

buat teman teman yang ingin berpartisipasi, silakan. Yang punya blog, ayo, posting di blognya. Semakin banyak yang tau, kemungkinan orang membantu semakin banyak kan? Entah membantu secara fisik, mbantu materi, atau apapun yang bisa kita lakukan, yang mungkin meringankan penderitaan mereka.

seperti dikutip dari Bloggerpeduli,

Dari bencana yang telah di alami beberapa saat waktu ada juga kepedulian dari para blogger atas terjadinya bencana ini. untuk pemberian bantuan dapat melalui Posko Langsat.


Untuk menciptakan hidup yang indah.. haruslah adanya tindakan dari diri kita sendiri untuk mempedulikan mereka yang kesusahan dan membutuhkan bantuan.

Senin, 25 Oktober 2010

Gak Mesra = Perceraian di Hari Tua



Salah satu impian dari sebuah pasangan adalah harmonisnya sebuah hubungan pernikahan. Tetapi, hal tersebut tidak dapat tercapai apabila dari setiap pihak tidak merasakan kemesraan terhadap pasangan mereka. Hal ini lah yang dapat menyebabkan peperangan di dalam rumah tangga mereka yang berujung pada berakhirnya suatu hubungan (perceraian).

Tak sedikit kasus perceraian terjadi di usia 50-an ke atas. Hal tersebut cukup memprihatinkan, mengingat umur pernikahan yang juga sudah cukup lama. Namun sebuah penelitian yang dikutip dari Dailymail dapat menjelaskan fenomena itu.

Penelitian itu dilakukan dengan cara melakukan survey pada pasangan yang bercerai di usia 50-an. Mereka pun mengungkapkan beberapa alasan perceraian mereka.

Alasan paling besar adalah hubungan yang mendingin. Sebanyak 28 persen peserta survei memilih hal tersebut sebagai alasan perceraian mereka. Hubungan mereka tak lagi mesra. Kontak fisik pun semakin lama semakin berkurang. Di akhir, hanya kehampaan yang terasa.

Sebanyak 27 persen peserta survei juga mengaku bahwa ia dan pasangannya tak lagi memiliki komitmen pada pernikahan yang telah dibangun bersama. Tak ada lagi rasa saling memmiliki ataupun usaha untuk mempertahankan jalannya pernikahan.

Ketika tak ada lagi kemesraan dan rasa saling memiliki, maka pasangan-pasangan itu tak lagi dapat berpikir jernih. Alhasil, 23 persen dari mereka bercerai karena tak bisa menyelesaikan perselisihan yang ada.

Alasan finansial pun masih mengganggu pernikahan yang telah berjalan lama. Sebanyak 9 persen peserta mengaku bercerai karena masalah finansial.

Jadi, selalu sediakan waktu untuk memupuk cinta Anda pada suami. Berikan perhatian dan dengarkan keluh kesahnya. Jangan sampai cinta yang telah Anda miliki justru mati dan tidak bersisa.

Sumber : Wolipop.com

Otak Cuma Butuh Seperlima Detik untuk Jatuh Cinta



Cinta.. Cinta.. paling seng deh kalo ngomongin seputar cinta bagi semua kaum. Baik kaum adam maupun kaum hawa, kaum muda maupun kaum tua. Tetapi ada pengetahuan tentang hidup nih yang bisa kita dapat tentang cinta itu sendiri. Supaya kalo kita udah memiliki pengetahuan, kita pasti bisa mengambil bagian yang benar dan tepat.

New York, Meski banyak yang mengatakan cinta itu tumbuh di hati, proses sesungguhnya lebih banyak terjadi di otak. Lebih mencengangkan lagi, cinta pada pandangan pertama benar-benar bisa terjadi karena otak memberikan respons sangat cepat.

Bukan hanya cepat karena terjadi dalam waktu 0,2 detik saja, hadirnya perasaan cinta juga melibatkan proses yang sangat kompleks. Sedikitnya ada 12 area di otak yang terlibat dalam pelepasan berbagai hormon cinta emosi seperti dopamin, oksitosin, adrenalin dan vasopresi.

Peran dari masing-masing bagian otak berbeda tergantung bentuk rasa cinta yang dialami seseorang. Misalnya pada cinta tak bersyarat (unconditional love) seperti yang terjadi dialami seorang ibu terhadap anak-anaknya, otak tengah paling memegang peran.

Dominasi peran yang lebih kompleks terjadi justru pada cinta berahi (passionate love). Pada perasaan semacam ini, ada beberapa bagian otak yang cenderung lebih aktif di antaranya bagian sistem reward yang merupakan pusat kesenangan serta bagian kognitif untuk pencitraan tubuh.

Perasaan cinta juga ditandai dengan kenaikan kadar Nerve Growth Factor (NGF) dalam darah. Senyawa kimia yang tercatat mengalami peningkatan tajam saat seseorang terpesona pada pasangannya ini membuktikan bahwa fenomena 'cinta pada pandangan pertama' memang benar-benar ada.

"Reaksi apapun yang terjadi di hati sebenarnya berasal dari otak. Oleh karena itu saya akan mengatakan rasa cinta itu terbentuk di otak, bukan di hati," ungkap Stephanie Ortigue, profesor dari Syracuse University di New York seperti dikutip dari ScienceDaily, Senin (26/10/2010).

Prof Ortigue meneliti reaksi otak saat jatuh cinta dan mempublikasikan hasilnya di Journal of Sexual Medicine baru-baru ini. Ia berharap temuannya bisa berguna dalam mengatasi gangguan emosi dan depresi pada orang-orang yang jarang mengetahui bagaimana rasanya jatuh cinta.

Sumber : Detik.com

Jumat, 22 Oktober 2010

5 Kriteria Pasangan Hidup yang Baik bagi Wanita



Sebagai seorang wanita, pasti kita menginginkan sebuah rumah tangga yang harmonis dan bertahan lama. Berikut adalah kriteria umum dari seorang pasangan hidup yang baik, dikutip dari laman Shine:

Jujur

Memiliki pasangan yang jujur bisa memberikan ketenangan batin. Jangan sampai kekasih yang akan dijadikan suami menyimpan rahasia dari Anda. Keterbukaan adalah kunci keharmonisan dalam rumah tangga.

Selalu Memberikan Dukungan

Dukungan dari kekasih adalah penyemangat hidup seseorang. Begitupula jika dia telah menjadi suami di masa depan. Suami yang selalu memberikan dukungan pada istrinya bisa menjadi kunci pernikahan berhasil.

Punya kepribadian menyenangkan


Apakah calon suami punya selera humor yang baik, atau tidak mudah diajak bercanda? Ia adalah orang yang akan menemani Anda menghabiskan sisa hidup. Jika Anda tidak menikmati kebersamaan dengannya sekarang, 10 atau 20 tahun lagi hubungan Anda bisa makin hambar. Pernikahan selalu diwarnai suka dan duka, tapi setidaknya ada saat-saat tertentu pasangan bisa membahagiakan Anda.

Pekerja keras

Tugas seorang pria adalah mencari nafkah untuk keluarganya. Meski saat ini kebanyakan wanita juga berkarier untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, seorang pria tetap memikul tanggung jawab utama untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Pria yang malas dan bukan tipe pekerja keras hanya akan membuat rumah tangga Anda terpuruk. Untuk itu, cobalah selektif dalam memilih suami. Tapi, bukan berarti Anda hanya mengharapkan pria kaya untuk dijadikan pasangan hidup. Cari pria yang mau bekerja keras untuk keluarganya.

Mencintai apa adanya

Mencintai segala kekurangan yang ada pada diri seseorang akan lebih baik daripada mencintai kelebihannya. Jika pria menyukai wanita dari kecantikannya, suatu saat rasa cintanya bisa saja pudar seiring dengan pudarnya kecantikan Anda. Namun, jika dia bisa menerima segala kekurangan Anda, dialah calon suami yang tepat untuk Anda pilih.

Sumber : VIVAnews

Sabtu, 16 Oktober 2010

Obesitas... Gak deh...

Obesitas sudah sering terdengar di kalangan masyarakat. Tidaka ada seorang pun yang ingin mengidapa obesitas, karena obesitas merupaka salah satu gangguan pada kesehatan. selain itu, arti dari obesiatas sendiri adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan.

Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria[rujukan?]. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas.

Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.

Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:

* Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
* Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
* Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk).

Perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi juga kepada lokasi penimbunan lemak tubuh. Pola penyebaran lemak tubuh pada pria dan wanita cenderung berbeda. Wanita cenderung menimbun lemaknya di pinggul dan bokong, sehingga memberikan gambaran seperti buah pir. Sedangkan pada pria biasanya lemak menimbun di sekitar perut, sehingga memberikan gambaran seperti buah apel. Tetapi hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang mutlak, kadang pada beberapa pria tampak seperti buah pir dan beberapa wanita tampak seperti buah apel, terutama setelah masa menopause.

Seseorang yang lemaknya banyak tertimbun di perut mungkin akan lebih mudah mengalami berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas. Mereka memiliki risiko yang lebih tinggi. Gambaran buah pir lebih baik dibandingkan dengan gambaran buah apel.

Untuk membedakan kedua gambaran tersebut, telah ditemukan suatu cara untuk menentukan apakah seseorang berbentuk seperti buah apel atau seperti buah pir, yaitu dengan menghitung rasio pinggang dengan pinggul. Pinggang diukur pada titik yang tersempit, sedangkan pinggul diukur pada titik yang terlebar; lalu ukuran pinggang dibagi dengan ukuran pinggul. Seorang wanita dengan ukuran pinggang 87,5 cm dan ukuran pinggul 115 cm, memiliki rasio pinggang-pinggul sebesar 0,76. Wanita dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 0,8 atau pria dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 1, dikatakan berbentuk apel.

Obesitas dapat disebabkan oleh beberapa faktor:

* Faktor genetik
.
Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.
* Faktor lingkungan.
Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.
* Faktor psikis.
Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan.

Ada beberapa tips untuk menghindari dan mengobati kita dari obesitas :

1. Merubah gaya hidup.


Diawali dengan merubah kebiasaan makan dan aktifitas fisik. Mengendalikan kebiasaan ngemil dan makan bukan karena lapar tetapi karena ingin menikmati makanan dan meningkatkan aktifitas fisik.

2. mengatur asupan makanan.


Lakukan diet untuk mengatur jumlah kalori dalam tubuh agar tetap seimbang antara 800 – 1700 kalori. Untuk diet rendah kalori dapat dilakukan dengan mengurangi nasi dan makanan berlemak, konsumsilah makanan yang cukup memberikan rasa kenyang tetapi tidak menggemukan karena jumlah kalori sedikit, misalnya dengan menu yang mengandung serat tinggi seperti sayur dan buah yang tidak terlalu manis.

3. konsultasi masalah kejiwaan.

Jika obesitas disebabkan oleh adanya faktor stress yang menyebabkan meningkatnya keinginan untuk makan sebagai security food, maka diperlukan konsultasi dengan psikiater untuk mengatasi permasalahannya.

4. pemberian obat-obatan.


Salah satu masalah yang menjadi kendala orang untuk mengurangi asupan makanan adalah sulitnya menekan nafsu makan. Untuk mengatasi malasah tersebut dapat digunakan obat yang dapat menekan nafsu makan. Obat lain yang dapat digunakan untuk mengatasi obesitas adalah obat yang menghambat penyerapan lemak diusus.

5. pembedahan.


Tindakan pembedahan merupkan pilihan terakhir untuk mengatasi obesitas. Pembedahan dilakukan untuk mengambil jaringan lemak yang berlebih. Tindakan ini merupakan tindakan bedah kosmetik, tindakan lainya adalah dengan mengangkat sebagian usus agar penyerapan makanan berkurang.

Bagi setiap individu yang ingin mengatasti dan mengobati obesitas dibutuhkan kegigihan dan kemauan yang besar dari dalam diri.